BANYUWANGI, – Pergantian waktu sering kali membawa perubahan besar dalam kehidupan seseorang. Bagi I Wayan Nurasta Wibawa, momen pertambahan usia tahun ini justru menjadi titik penting perjalanan pengabdiannya. Ia kini dipercaya mengemban tanggung jawab baru sebagai Kepala Lapas Kelas IIA Tenggarong, Kalimantan Timur, setelah menyelesaikan masa tugasnya di Banyuwangi.
Perjalanan tersebut bukan sekadar mutasi jabatan biasa, melainkan bagian dari kesinambungan dedikasi dalam membangun sistem pemasyarakatan yang lebih berorientasi pada nilai kemanusiaan.
Mengubah Cara Pandang: Lapas Bukan Sekadar Tempat Hukuman
Selama memimpin Lapas Kelas IIA Banyuwangi, I Wayan Nurasta Wibawa menghadirkan pendekatan yang berbeda. Ia tidak melihat lembaga pemasyarakatan hanya sebagai ruang pembatas kebebasan, melainkan sebagai tempat membangun kembali nilai hidup para warga binaan.
Pendekatan yang mengedepankan empati dan keterlibatan langsung membuat keberadaannya dirasakan tidak hanya oleh internal lapas, tetapi juga oleh masyarakat di sekitarnya.
Kedekatan Nyata dengan Warga: Dari Program hingga Aksi Langsung
Di kawasan SAE Pakis, kontribusi tersebut terasa nyata. Kehadiran beliau tidak hanya dalam bentuk program, tetapi juga tindakan langsung yang menyentuh kehidupan masyarakat.
Nilai Tat Twam Asi yang berarti “aku adalah engkau” benar-benar diwujudkan dalam sikap keseharian—membaur tanpa sekat, membantu tanpa pamrih.
Salah satu warga, Mas Rio, mengungkapkan kesannya:
“Beliau bukan tipe pemimpin yang hanya memberi instruksi. Ia turun langsung, bahkan ikut membantu kegiatan sosial seperti membersihkan tempat ibadah dan mendukung pembangunan fasilitas masyarakat. Sosoknya dekat dengan siapa saja.”
Perpisahan yang Tidak Sederhana
Berakhirnya masa tugas di Banyuwangi menyisakan kesan mendalam bagi masyarakat. Kepergian ini bukan sekadar rotasi struktural, tetapi kehilangan figur yang selama ini menjadi jembatan antara institusi dan rakyat.
Kini, pengabdian itu berlanjut di Tenggarong, wilayah yang berada di sekitar Sungai Mahakam, dengan tantangan dan harapan baru.
Doa dan harapan pun mengiringi langkahnya:
“Semoga sukses di tempat baru. Jika suatu saat kembali, kami akan selalu menyambut dengan hangat,” ungkap warga penuh harap.
Warisan yang Tidak Kasat Mata, Namun Terasa
Apa yang ditinggalkan I Wayan Nurasta Wibawa bukan hanya capaian kerja, melainkan nilai—tentang bagaimana memimpin dengan hati, tentang bagaimana hadir di tengah masyarakat tanpa jarak.
Di tengah berbagai dinamika lembaga pemasyarakatan, pendekatan seperti ini menjadi pengingat bahwa perubahan bisa dimulai dari keteladanan.
Perjalanan boleh berpindah tempat, tetapi makna pengabdian tetap tinggal. Dari Banyuwangi menuju tepian Mahakam, langkah I Wayan Nurasta Wibawa membawa harapan yang sama: menghadirkan kemanusiaan di setiap ruang tugas.
(Red)
















