BANYUWANGI – Pembangunan daerah berbasis potensi sumber daya kembali menunjukkan hasil konkret di Kabupaten Banyuwangi. Melalui sinergi strategis dengan Kementerian Pertanian, pemerintah daerah terus memperkuat sektor pertanian sebagai tulang punggung ekonomi rakyat lewat pembangunan sumur bor dan jaringan irigasi.
Langkah ini menjadi solusi nyata dalam menjawab tantangan klasik petani: keterbatasan air saat musim kemarau. Kini, melalui program intervensi yang terukur, ketersediaan air tidak lagi menjadi hambatan utama, melainkan kekuatan baru dalam mendorong produktivitas.
Salah satu implementasi nyata terlihat di Kelompok Tani Keji Beling, Desa Kaotan, Kecamatan Blimbingsari. Bantuan sumur bor yang diberikan mampu mengairi lahan seluas lebih dari 50 hektar yang dikelola puluhan petani, menciptakan sistem pertanian yang lebih stabil dan berkelanjutan.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur pertanian ini merupakan bagian dari strategi besar memperkuat ketahanan pangan daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
“Sumur bor ini memberikan kepastian air sepanjang tahun. Ini bukan hanya soal irigasi, tetapi tentang menjamin keberlangsungan produksi dan melindungi petani dari risiko gagal panen,” tegas Ipuk saat meresmikan rumah pompa di sela program Bunga Desa.
Dengan sistem pengairan yang lebih terkontrol, petani kini mampu meningkatkan intensitas tanam secara signifikan. Dari sebelumnya dua kali panen dalam setahun, kini meningkat menjadi tiga kali panen. Efisiensi distribusi air juga menghapus praktik antrean irigasi yang selama ini menjadi kendala utama di lapangan.
Program ini merupakan bagian dari kebijakan Optimasi Lahan yang digulirkan Kementerian Pertanian. Di Banyuwangi, program tersebut mencakup lebih dari seribu hektar lahan di tiga kecamatan, dengan pembangunan puluhan sumur bor, jaringan irigasi tersier, serta dukungan benih unggul bagi petani.
Tidak hanya berdampak pada peningkatan produksi, keberadaan sumur bor juga membuka peluang ekonomi baru di tingkat kelompok tani. Air yang melimpah kini dimanfaatkan untuk budidaya ikan hingga usaha kolam rekreasi anak, menciptakan sumber pendapatan tambahan yang memperkuat ekonomi desa.
Ketua Kelompok Tani setempat, Isa Ansori, mengakui perubahan signifikan yang dirasakan petani sejak adanya fasilitas tersebut.
“Dulu kami harus bergantian mendapatkan air, sekarang tidak lagi. Bahkan saat kemarau, kami tetap bisa tanam. Hasil panen meningkat dan ada tambahan usaha dari pemanfaatan air,” ujarnya.
Data produksi menunjukkan tren positif. Produksi padi Banyuwangi pada 2025 mencapai lebih dari 800 ribu ton, meningkat dibanding tahun sebelumnya. Kenaikan ini menjadi indikator kuat bahwa intervensi berbasis infrastruktur dan pengelolaan sumber daya air memberikan dampak nyata terhadap produktivitas pertanian.
Langkah progresif ini menegaskan bahwa pembangunan daerah tidak hanya berorientasi pada proyek fisik, tetapi juga pada penguatan sektor riil yang langsung menyentuh kehidupan masyarakat. Dengan memaksimalkan potensi sumber daya alam dan didukung kebijakan yang tepat, Banyuwangi terus bergerak menuju kemandirian pangan dan ekonomi yang berkelanjutan.
(Redaksi – Media Nasional Ganesha Abadi)
















