BANYUWANGI – Lompatan besar pembangunan berbasis potensi sumber daya lokal kembali ditorehkan Kabupaten Banyuwangi. Kali ini, pengakuan datang dari kalangan akademisi dan otoritas nasional, setelah Universitas Brawijaya bersama Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal memberikan penghargaan atas pesatnya pengembangan ekosistem halal di daerah tersebut.
Penghargaan prestisius tersebut diserahkan dalam ajang Indonesia Halal Ecosystem Summit & Halal Metric Award yang digelar di Malang. Banyuwangi tidak hanya menerima satu, melainkan tiga penghargaan sekaligus, meliputi aspek inovasi, kolaborasi, pemberdayaan publik, hingga penguatan infrastruktur halal.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menegaskan bahwa capaian tersebut merupakan hasil dari strategi pembangunan daerah yang berfokus pada optimalisasi potensi sumber daya ekonomi masyarakat.
“Penghargaan ini menjadi bukti bahwa arah kebijakan kami dalam membangun ekosistem halal berada di jalur yang tepat. Ini bukan sekadar soal sertifikasi, tetapi bagaimana menciptakan sistem ekonomi yang terintegrasi dan berkelanjutan,” tegas Ipuk.
Menurutnya, pengembangan ekosistem halal di Banyuwangi tidak berdiri sendiri, melainkan terintegrasi dengan penguatan sektor UMKM, industri pengolahan, hingga pariwisata berbasis halal. Pendekatan ini menjadikan ekonomi lokal tidak hanya tumbuh, tetapi juga memiliki daya saing yang lebih luas di pasar nasional maupun global.
Rektor Universitas Brawijaya, Widodo, menilai Banyuwangi memiliki fondasi kuat dalam pengembangan industri halal berbasis komunitas.
“Banyuwangi memiliki potensi besar, mulai dari sektor kuliner hingga pariwisata. Progresnya sangat baik dan menunjukkan kesiapan menjadi daerah rujukan pengembangan ekosistem halal di Indonesia,” ujarnya.
Senada, Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal, Haikal Hasan, menyebut Banyuwangi sebagai contoh konkret daerah yang progresif dalam mendorong industri halal.
“UMKM didorong aktif mendapatkan sertifikat halal, infrastruktur seperti rumah potong hewan juga disiapkan. Banyuwangi layak menjadi model nasional,” ungkapnya.
Data menunjukkan, hingga saat ini Banyuwangi telah memfasilitasi penerbitan lebih dari 22 ribu sertifikat halal bagi produk UMKM. Selain itu, tersedia delapan rumah potong hewan dan empat rumah potong unggas yang telah tersertifikasi halal, memperkuat rantai pasok industri halal dari hulu hingga hilir.
Langkah strategis ini menegaskan bahwa pembangunan daerah Banyuwangi tidak hanya bertumpu pada pembangunan fisik, tetapi juga pada penguatan kualitas sumber daya ekonomi masyarakat. Ekosistem halal menjadi salah satu instrumen utama dalam menciptakan nilai tambah, membuka peluang usaha, serta meningkatkan kesejahteraan secara inklusif.
Ipuk menambahkan, penghargaan ini akan menjadi energi baru untuk memperluas kolaborasi lintas sektor, baik dengan akademisi, pemerintah pusat, maupun pelaku industri.
“Ke depan, kami ingin memastikan bahwa ekosistem halal di Banyuwangi semakin kuat, inklusif, dan berkelanjutan. Target kami jelas, menjadikan Banyuwangi sebagai pusat pengembangan industri halal yang mampu bersaing di tingkat nasional bahkan global,” pungkasnya.
Dengan capaian ini, Banyuwangi kembali menegaskan posisinya sebagai daerah inovatif yang mampu mengelola potensi sumber daya secara visioner, sekaligus menghadirkan pembangunan yang berdampak nyata bagi masyarakat.
(Redaksi – Media Nasional Ganesha Abadi)
















