BANYUWANGI – Memasuki awal tahun 2026, Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banyuwangi mengambil langkah strategis dan tegas melalui penandatanganan Perjanjian Kinerja dan Pakta Integritas, Rabu (7/1), di Aula Sahardjo. Seluruh pejabat struktural dan staf mengikuti kegiatan yang menjadi tonggak penting bagi upaya reformasi layanan dan penguatan integritas institusi.
Kepala Lapas (Kalapas) Banyuwangi, I Wayan Nurasta Wibawa, menegaskan bahwa perbaikan kinerja dan percepatan layanan menjadi fokus utama sepanjang tahun. “Tahun ini, fokus kita adalah perbaikan kinerja secara menyeluruh dan percepatan layanan. Masyarakat dan warga binaan harus merasakan perubahan nyata, terutama kemudahan akses informasi layanan,” tegas Wayan.
Dalam arahannya, Wayan menekankan pentingnya perubahan mindset dari budaya kerja administratif menuju budaya kerja yang berorientasi hasil dan kepuasan masyarakat. Dokumen yang ditandatangani bukan sekadar formalitas, melainkan janji kerja yang akan dievaluasi secara berkala untuk memastikan efektivitas program dan akuntabilitas petugas.
Tidak hanya soal kinerja, aspek integritas menjadi perhatian utama Lapas Banyuwangi. Wayan memberikan peringatan keras agar seluruh petugas menjauhi praktik peredaran handphone dan narkoba (Halinar) di dalam Lapas. “Saya ingatkan dengan tegas kepada seluruh jajaran, jangan pernah sekali-kali mencoba bermain atau terlibat dalam peredaran handphone apalagi narkoba. Tidak ada toleransi bagi siapapun yang terlibat,” tegasnya.
Sebagai langkah konkret, pengawasan internal akan diperketat melalui razia rutin dan pemantauan aktivitas petugas serta warga binaan. Komitmen “Zero Halinar” ini menjadi bagian integral dari Perjanjian Kinerja yang telah disepakati.
Selain itu, Lapas Banyuwangi berkomitmen mengoptimalkan pemanfaatan teknologi informasi untuk memangkas birokrasi dan menutup celah pungutan liar (pungli). Dengan strategi ini, institusi optimis dapat membangun kepercayaan penuh masyarakat, sekaligus menegaskan posisi Lapas sebagai lembaga pemasyarakatan yang bersih, profesional, dan akuntabel.
Langkah awal ini menegaskan bahwa Lapas Banyuwangi tidak hanya fokus pada pengawasan warga binaan, tetapi juga pada pembenahan internal yang holistik, menghadirkan layanan publik yang cepat, transparan, dan bebas dari praktik ilegal.
(Redaksi)
















