BANYUWANGI – Menjelang rencana aksi 6 Mei 2026, suara berbeda muncul dari kalangan spiritual. M. Rofiq Azmi, Ketua Aliansi Pemuda Peduli Masyarakat (APPM) sekaligus pendiri Padepokan Laskar Langit Sejati, membeberkan tafsir batin yang justru meredam kekhawatiran publik.
Dalam refleksi yang ia sampaikan pada Jumat (1/5/2026), Rofiq menilai dinamika yang berkembang di Banyuwangi tidak menunjukkan potensi ledakan besar. Ia mengaku menangkap “getaran harmoni” yang stabil sebuah isyarat bahwa aksi yang direncanakan akan tetap berada dalam koridor aman dan terkendali.
“Semesta seperti sedang menjaga ritme,” ungkapnya, menggambarkan kondisi sosial yang menurutnya tidak sedang menuju eskalasi berbahaya.
Lebih jauh, Rofiq mengkritisi keras narasi panas yang beredar. Ia menilai kegaduhan saat ini bisa jadi bukan murni lahir dari dinamika masyarakat, melainkan berpotensi merupakan skenario yang sengaja dibentuk untuk kepentingan tertentu.
“Bisa saja ini sekadar ‘jualan kamtibmas’ membangun ketakutan agar seolah ada ancaman besar,” tegasnya.
Pernyataan tersebut bukan tanpa dasar. Rofiq merujuk pada rekam jejak aksi-aksi sebelumnya di Banyuwangi yang menurutnya tidak pernah menunjukkan mobilisasi massa dalam jumlah signifikan. Dari pengamatannya, kelompok yang sering disebut sebagai penggerak aksi juga belum pernah menghadirkan gelombang massa besar sebagaimana yang dikhawatirkan.
Dalam perspektif spiritualnya, Banyuwangi justru sedang berada pada fase yang ia sebut selaras dengan “restu alam”. Ia menggambarkan kondisi ini sebagai arah menuju cita-cita Gemah Ripah Loh Jinawi sebuah tatanan yang seimbang antara manusia, alam, dan nilai kehidupan.
Rofiq pun mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang belum tentu mencerminkan realitas di lapangan. Menurutnya, kunci menjaga stabilitas bukan terletak pada absennya peristiwa, melainkan pada kesadaran kolektif dalam merawat ketenangan.
“Selama masyarakat tetap menjaga kesadaran dan tidak terpancing isu, maka semua akan berjalan dalam batas kewajaran,” pungkasnya.
Narasi ini sekaligus menjadi kontra terhadap kekhawatiran berlebihan yang belakangan menguat. Apakah benar isu panas hanya “settingan”, atau justru bagian dari dinamika demokrasi yang wajar? Waktu akan menjawab, namun satu hal pasti ketenangan publik tetap menjadi faktor penentu arah situasi.
(Redaksi)















