BANYUWANGI – Di setiap musim giling, narasi lama kembali diputar: industri gula merugi karena harga gula rendah, harga tetes turun, atau pasar tidak berpihak. Harga kembali dijadikan terdakwa utama. Namun sebuah kritik tajam datang dari kalangan petani tebu.
Rifki Al Amudi dari DPC APTRI Banyuwangi menilai, persoalan utama industri gula nasional bukan semata-mata harga, melainkan inefisiensi proses produksi yang berlangsung sistemik dan bertahun-tahun tidak diselesaikan secara serius.
“Jika setiap tahun potensi Rp 2 triliun hilang ke tetes, maka menyalahkan harga adalah bentuk pengalihan isu dari problem yang lebih mendasar,” tegasnya.
Tetes Tebu: Produk Samping atau Simbol Inefisiensi?
Secara teknis, tetes tebu (molasses) masih mengandung total gula sekitar 45–60 persen, dengan kandungan sukrosa 25–40 persen. Artinya, setiap ton tetes masih menyimpan gula dalam jumlah signifikan yang gagal dikristalkan dalam proses produksi utama.
Dengan produksi tebu nasional sekitar 35 juta ton per tahun dan rasio tetes sekitar 4,5 persen, Indonesia menghasilkan kurang lebih 1,5 juta ton tetes setiap tahun. Jika rata-rata kandungan sukrosa 30 persen, maka terdapat lebih dari 470 ribu ton sukrosa yang ikut terbawa dalam tetes.
Memang tidak semua gula tersebut dapat direcovery secara ekonomis. Namun dengan pendekatan efisiensi konservatif, setidaknya sekitar 140 ribu ton gula masih berpotensi dicegah agar tidak hilang ke tetes.
Dengan asumsi harga gula Rp 14.500 per kilogram, nilai ekonomi yang hilang mendekati Rp 2 triliun per tahun.
Angka ini setara hampir 6 persen produksi gula nasional — bukan jumlah kecil dalam konteks swasembada gula.
Persoalan Fundamental: Mesin Tua dan Proses Tak Presisi
Rifki menilai, akar persoalan industri gula nasional terletak pada problem klasik yang berulang:
- Mesin berusia tua dengan efisiensi ekstraksi rendah
- Proses kristalisasi yang belum optimal
- Kontrol proses yang tidak presisi
- Utilisasi kapasitas pabrik yang belum maksimal
- Manajemen produksi yang belum berbasis efisiensi modern
Dalam kondisi seperti ini, gula yang seharusnya menjadi produk utama justru “bocor” dalam bentuk tetes.
Sebagai pembanding, negara produsen seperti Brasil dan Thailand mampu menekan kehilangan gula ke tetes pada level jauh lebih rendah. Bukan semata karena harga lebih baik, tetapi karena modernisasi teknologi dan disiplin efisiensi proses.
Ironi Swasembada Gula
Ironinya, di tengah wacana swasembada dan perlindungan industri dalam negeri, ruang efisiensi internal yang begitu besar justru belum dimaksimalkan.
Setiap kilogram gula yang tertinggal di tetes bukan hanya kerugian perusahaan. Itu adalah:
- Kerugian petani tebu
- Kerugian industri nasional
- Kerugian penerimaan negara
- Kerugian upaya kemandirian pangan
“Jika efisiensi ditingkatkan, produksi gula nasional bisa naik tanpa membuka lahan baru, tanpa menambah biaya tanam, bahkan tanpa harus berharap harga melonjak,” ujar Rifki.
Saatnya Narasi Berubah
Industri gula nasional saat ini berada dalam fase transformasi. Namun transformasi tidak boleh berhenti pada restrukturisasi kelembagaan atau pergantian manajemen. Transformasi harus menyentuh inti persoalan: efisiensi teknis dan modernisasi proses produksi.
Harga adalah variabel eksternal.
Efisiensi adalah variabel internal.
Harga tidak selalu bisa dikendalikan.
Efisiensi selalu bisa diperbaiki.
Menurut Rifki, selama industri lebih sibuk menekan pemerintah soal harga dibanding memperbaiki kebocoran internal, maka problem fundamental akan terus berulang setiap musim giling.
Penutup: Rp 2 Triliun yang Tak Boleh Lagi Dianggap Biasa
Rp 2 triliun yang “mengalir ke tetes” setiap tahun bukan sekadar angka statistik. Ia adalah simbol lemahnya disiplin efisiensi dalam industri gula nasional.
Jika industri ingin benar-benar bangkit dan kompetitif, maka paradigma harus berubah:
Bukan lagi mencari kambing hitam di pasar,
tetapi membangun keunggulan dari dalam sistem produksi.
Karena pada akhirnya, masa depan industri gula Indonesia tidak ditentukan oleh harga semata, melainkan oleh kemampuan memastikan bahwa setiap tetes tebu menghasilkan nilai optimal bagi bangsa.
(Red)
















