Banyuwangi – Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW yang seharusnya berlangsung khidmat dan sarat nilai spiritual justru tercoreng oleh penampilan biduan dengan goyangan tidak pantas. Peristiwa ini memantik keprihatinan luas masyarakat, terutama terkait marwah agama Islam, keteladanan publik, dan tanggung jawab moral penyelenggara acara keagamaan.
Isra Mi’raj merupakan peristiwa suci dan monumental dalam sejarah Islam, menandai perjalanan agung Rasulullah SAW menerima perintah shalat langsung dari Allah SWT. Oleh karena itu, seluruh rangkaian peringatan seyogianya dijaga dalam suasana penuh adab, kesopanan, dan kekhusyukan.
Perjalanan Suci yang Sarat Nilai Akhlak
Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa misi utama kenabian adalah penyempurnaan akhlak.
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia” (HR. Bukhari dan Muslim).
Para alim ulama sebagai pewaris risalah Nabi terus melanjutkan perjuangan tersebut dengan mengajarkan ilmu, adab, dan keteladanan moral di tengah umat. Menjaga kehormatan acara keagamaan adalah bagian dari menjaga marwah dakwah Islam itu sendiri.
Goyangan dan Saweran di Acara Nuansa Musik Padang Pasir Jadi Sorotan
Sebelumnya, publik juga dihebohkan oleh beredarnya video viral yang menampilkan seorang tokoh publik bergoyang gemulai sambil menghambur-hamburkan uang saweran kepada biduan dalam panggung bernuansa Timur Tengah. Aksi tersebut menuai kritik karena dinilai tidak selaras dengan nilai kesopanan dan mencederai wibawa ketokohan.
Kejadian itu menimbulkan pertanyaan serius di tengah masyarakat: apakah praktik semacam ini pantas ditiru atau dilanjutkan dalam acara peringatan Isra Mi’raj yang sakral, seperti yang terjadi di wilayah Songgon, Banyuwangi?
Biduan dan Aspek Ketidaktahuan, Namun Sakralitas Tetap Harus Dijaga
Masyarakat diimbau bersikap bijaksana dan proporsional dalam menyikapi peristiwa ini. Ketidaktahuan biduan terhadap konteks acara tidak serta-merta membenarkan penampilan yang tidak sesuai, terlebih ketika busana dan gaya panggung tidak mencerminkan nilai keislaman.
Peringatan Isra Mi’raj bukanlah ruang hiburan bebas, melainkan forum ibadah dan refleksi spiritual. Menyisipkan unsur yang mengarah pada kemaksiatan dapat dinilai sebagai bentuk pengabaian terhadap kesakralan agama.
Goyangan Tak Pantas Dinilai Mengalihkan Makna Ibadah
Sejumlah tokoh masyarakat menilai bahwa goyangan erotis di acara keagamaan berpotensi mengalihkan perhatian jamaah dari makna utama Isra Mi’raj. Tradisi peringatan selama ini diisi dengan pengajian, shalat berjamaah, pembacaan shalawat, dan doa bersama—bukan pertunjukan yang merusak adab dan akhlak.
Kemaksiatan yang dibungkus hiburan dinilai dapat menormalisasi perilaku yang bertentangan dengan nilai Islam, khususnya bagi generasi muda.
Ibadah Tidak Boleh Dicampur Kemaksiatan
Rasulullah SAW mengingatkan dengan tegas:
“Barangsiapa mengada-adakan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amalan itu tertolak” (HR. Muslim).
Pesan ini menjadi pengingat bahwa setiap amalan dan peringatan keagamaan harus berlandaskan tuntunan syariat, bukan kepentingan hiburan atau popularitas semata.
Evaluasi dan Keteladanan Jadi Kunci
Peristiwa ini diharapkan menjadi cermin evaluasi bersama bagi panitia, tokoh masyarakat, dan semua pihak agar lebih selektif, bertanggung jawab, serta menjaga kesucian acara keagamaan. Peringatan Isra Mi’raj bukan sekadar seremonial, melainkan momentum menanamkan nilai akhlak, keteladanan, dan penghormatan terhadap risalah Nabi Muhammad SAW.
Menjaga marwah agama berarti menjaga masa depan moral umat.
(Red)
















