Banyuwangi — Peristiwa meninggalnya warga di area bekas galian C di Desa Karangbendo, Kecamatan Rogojampi, kembali menyisakan duka dan keprihatinan mendalam. Kejadian tersebut menambah catatan kelam atas keberadaan lubang besar bekas aktivitas pertambangan yang hingga kini masih terbuka dan belum dipulihkan.
Keprihatinan itu disampaikan langsung oleh Amir Ma’ruf Khan, warga Banyuwangi yang juga terdampak langsung oleh kerusakan lingkungan akibat aktivitas galian C di wilayah lain. Menurut Amir, tragedi yang terus berulang ini seharusnya menjadi alarm serius bagi semua pihak agar keselamatan masyarakat ditempatkan sebagai prioritas utama.
“Yang paling penting bagi saya adalah keselamatan nyawa manusia. Tidak ada alasan apa pun yang bisa membenarkan kondisi lingkungan yang membahayakan warga,” tegas Amir Ma’ruf Khan dalam keterangannya.
Lubang Bekas Tambang Dinilai Membahayakan
Amir menyoroti kondisi gubangan besar yang dibiarkan terbuka dan terisi air, yang menurutnya secara kasat mata sudah berbahaya, terlebih berada tidak jauh dari aktivitas warga. Ia menilai, tanpa pengamanan dan pemulihan yang memadai, lokasi tersebut berpotensi terus memakan korban.
“Kalau sebuah lokasi sudah beberapa kali menelan korban, artinya ada kondisi yang memang tidak aman. Ini bukan soal siapa salah atau benar, tapi soal bagaimana mencegah agar tidak ada korban berikutnya,” ujarnya.
Terkait pernyataan publik bahwa lokasi tersebut disebut sebagai embung atau penampung air hujan, Amir menilai fungsi apa pun seharusnya tetap mengedepankan aspek keselamatan.
“Kalau memang embung, tentu harus dikelola dengan standar keamanan yang jelas. Yang kita lihat hari ini justru sebaliknya, masyarakat yang paling rentan menjadi korban,” kata Amir.
Pengalaman Serupa di Wilayah Lain
Amir juga membagikan pengalamannya sebagai pemilik lahan yang berbatasan langsung dengan area bekas galian C di Kelurahan Bulusan, Banyuwangi. Ia mengaku aktivitas di sekitar lahannya kini nyaris terhenti karena kondisi lingkungan yang dianggap berbahaya.
“Lahan saya dan aktivitas warga di sekitar praktis terganggu. Bahkan sudah ada peringatan agar tidak mendekat karena risiko keselamatan. Ini menunjukkan dampaknya bukan hanya ke satu orang, tapi ke masyarakat luas,” jelasnya.
Menurut Amir, situasi tersebut menimbulkan ketakutan dan keresahan, terutama bagi warga yang sehari-hari beraktivitas di sekitar area bekas galian.
Seruan Pemulihan dan Kepedulian Bersama
Dalam pernyataannya, Amir menegaskan bahwa ia tidak sedang menuntut atau menyalahkan siapa pun, melainkan mengajak semua pihak untuk fokus pada solusi nyata berupa pemulihan lingkungan.
“Saya tidak meminta apa-apa selain lahan yang sudah rusak itu dipulihkan agar kembali aman. Soal lainnya, biarlah menjadi urusan masing-masing pihak. Yang jelas, jangan sampai ada korban lagi,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa figur publik dan pemangku kepentingan memiliki tanggung jawab moral untuk memberi contoh kepedulian terhadap keselamatan masyarakat dan lingkungan.
Keselamatan di Atas Segalanya
Tragedi di Karangbendo, menurut Amir, seharusnya menjadi momentum evaluasi bersama agar bekas aktivitas pertambangan tidak berubah menjadi sumber bencana sosial.
“Keselamatan nyawa manusia harus berada di atas segalanya. Lingkungan yang aman bukan hanya kebutuhan hari ini, tapi warisan bagi generasi berikutnya,” pungkas Amir Ma’ruf Khan.
(Red)
















