BANYUWANGI – Semangat pelestarian budaya leluhur dan kebangkitan nilai-nilai spiritual Nusantara kembali menggema di Banyuwangi melalui penyelenggaraan Ruatan Pungkasan Pagelaran Agung Jagad Semesta Raya yang digelar di kediaman Mbah Supono, tokoh aktivis 1998 sekaligus pengemban Paguyuban Serikat Manusia Merdeka, di Desa Tapanrejo, Kecamatan Muncar, Kamis (23/4/2026).
Kegiatan yang berlangsung penuh khidmat tersebut mengusung tema besar “Bangkitnya Penataan Tatanan Peradaban Jaman Kembali Jati Diri Setiap Diri Suku Bangsa Manusia di Seluruh Penjuru Dunia”. Tema tersebut menjadi simbol ajakan moral dan spiritual agar manusia kembali memahami akar jati diri, budaya, serta nilai luhur kehidupan dalam menjaga keseimbangan antara manusia dan alam semesta.
Walaupun digelar secara sederhana di lingkungan rumah pribadi, pagelaran ruatan tersebut tidak mengurangi nilai kesakralan prosesi adat dan spiritual yang dijalankan. Justru nuansa kekeluargaan, kebersamaan, dan ketulusan menjadi kekuatan utama dalam pelaksanaan Ruatan Bumi Nusantara Saisine yang telah menjadi bagian dari perjalanan spiritual masyarakat setempat.
Sejumlah sesepuh dari Desa Tapanrejo dan Desa Blambangan turut hadir dalam prosesi tersebut. Kehadiran para tokoh adat dan masyarakat menjadi bentuk dukungan terhadap upaya menjaga warisan budaya leluhur agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman modern yang terus bergerak cepat.
Dalam keterangannya, Mbah Supono menyampaikan bahwa Ruatan Bumi Saisine bukan sekadar ritual budaya, melainkan bentuk ikhtiar batin untuk menjaga ketenteraman bangsa, keselamatan alam, dan kesejahteraan masyarakat Indonesia secara luas. Ia menegaskan bahwa kegiatan ruatan yang dilaksanakan secara rutin tersebut merupakan bagian dari doa bersama demi terciptanya kehidupan yang harmonis dan penuh kedamaian.
“Ruatan ini adalah bentuk pengingat bahwa manusia harus tetap menjaga keseimbangan dengan alam dan sesama. Ketika batin manusia tertata, maka kehidupan bangsa juga akan bergerak menuju ketenteraman dan kemakmuran,” ujar Mbah Supono dalam suasana penuh kekhidmatan.
Menariknya, prosesi Ruatan Pungkasan kali ini berlangsung berdekatan dengan pembangunan Sekolah Rakyat (SR), program nasional Presiden Prabowo Subianto yang tengah dibangun di wilayah Desa Blambangan, Kecamatan Muncar. Lokasi pembangunan sekolah tersebut berada tepat di seberang aliran sungai di depan kediaman Mbah Supono, sehingga menghadirkan suasana simbolis antara pembangunan spiritual dan pembangunan pendidikan bangsa.
Bagi sebagian masyarakat yang hadir, momentum tersebut dianggap sebagai pertanda lahirnya harapan baru bagi masa depan generasi Indonesia. Di satu sisi berlangsung doa dan laku spiritual untuk menjaga harmoni jagad semesta, sementara di sisi lain pembangunan pendidikan rakyat terus berjalan sebagai bagian dari upaya menciptakan sumber daya manusia unggul.
Pagelaran ditutup dengan seruan penuh semangat dan harapan, “Rahayu… Rahayu… Merdeka… Merdeka… Selamat Negeriku, Makmur Rakyatku,” yang menggema di tengah masyarakat yang hadir. Ucapan tersebut menjadi simbol doa dan optimisme agar Indonesia senantiasa diberi keselamatan, kemakmuran, dan persatuan.
Kegiatan budaya spiritual seperti ini dinilai memiliki peran penting dalam menjaga identitas bangsa sekaligus memperkuat nilai gotong royong, persaudaraan, dan penghormatan terhadap warisan leluhur Nusantara. Di tengah derasnya arus globalisasi, masyarakat diingatkan untuk tetap berpijak pada akar budaya sebagai fondasi membangun peradaban yang bermartabat dan berkeadaban.
(Redaksi Media Nasional Ganesha Abadi)
Tajam Dalam Fakta, Santun Dalam Karya, Menjadi Pilar Informasi Bermartabat untuk Nusantara
















