Banyuwangi, 5 Mei 2026 — Akar persoalan dalam kasus yang kini disorot publik terletak pada dugaan pelarangan penggunaan sound system dalam perayaan Idul Fitri di kawasan pesisir Pantai Marina Boom Banyuwangi. Isu ini memantik ketegangan serius yang berujung pada dugaan tindakan kekerasan terhadap warga lokal.
Desakan terhadap aparat penegak hukum pun menguat dalam aksi yang digelar di Polresta Banyuwangi, sebagai bentuk tuntutan atas kejelasan proses hukum yang dinilai berjalan lamban.
Larangan Sound System Jadi Pemicu Utama
Berdasarkan keterangan pihak pendamping hukum, korban saat itu tengah menjalankan kegiatan penyediaan sound system untuk memeriahkan tradisi tahunan masyarakat dalam menyambut Idul Fitri.
Namun, situasi berubah ketika muncul larangan terhadap penggunaan sound system di lokasi tersebut sebuah kebiasaan yang selama ini telah menjadi bagian dari tradisi warga pesisir.
Tindakan Sepihak WNA Memicu Ketegangan
Ketegangan meningkat saat seorang warga negara asing (WNA) diduga bertindak sepihak dengan mencabut langsung perangkat sound system yang sedang digunakan.
Tanpa dialog atau mekanisme komunikasi yang jelas, tindakan tersebut memicu reaksi spontan di lapangan. Situasi yang awalnya merupakan kegiatan perayaan berubah menjadi konflik terbuka.
Berujung Dugaan Kekerasan terhadap Warga Lokal
Insiden tersebut kemudian berkembang menjadi dugaan tindakan kekerasan terhadap korban, Suro, yang kini telah melaporkan kejadian tersebut dan melengkapi bukti berupa visum serta keterangan saksi.
Penasihat hukum korban, Rozaki Muhtar, menilai bahwa tindakan sepihak tersebut merupakan pemicu utama eskalasi konflik.
“Ketika tradisi lokal dibatasi secara sepihak, apalagi dengan tindakan langsung tanpa komunikasi, maka potensi konflik sangat besar. Dan faktanya, itu berujung pada dugaan kekerasan,” tegasnya.
Sorotan Publik: Antara Tradisi, Hukum, dan Kedaulatan Sosial
Kasus ini kini tidak hanya dilihat sebagai persoalan hukum semata, tetapi juga menyentuh aspek yang lebih luas yakni penghormatan terhadap tradisi lokal dan batas interaksi sosial antara warga lokal dan warga asing.
Masyarakat menilai bahwa tindakan mencabut sound system bukan sekadar persoalan teknis, melainkan bentuk intervensi terhadap kebiasaan yang telah lama hidup di tengah masyarakat.
Desakan Tegas: Hukum Harus Hadir Tanpa Kompromi
Melalui aksi di Mapolresta Banyuwangi, masyarakat mendesak agar aparat:
- Bertindak cepat dan profesional
- Mengusut tuntas dugaan kekerasan
- Tidak mengabaikan akar persoalan yang memicu konflik
Kasus ini menjadi pengingat bahwa ketika larangan muncul tanpa kejelasan dan tindakan sepihak terjadi, konflik adalah konsekuensi yang tak terhindarkan.
Ganesha Abadi menegaskan:
Penegakan hukum tidak boleh ragu. Tradisi tidak boleh ditekan. Dan setiap tindakan kekerasan harus diproses secara adil tanpa pengecualian.
Redaksi Gaya Media Nasional – Ganesha Abadi
Tajam • Tegas • Berwibawa • Mencerahkan.














