BANYUWANGI – Sebuah pagelaran budaya dan spiritual bertajuk “Pagelaran Agung Jagad Semesta Raya” menjadi perhatian masyarakat setelah pesan-pesan filosofis dan kebangsaan yang terpampang di kawasan Tugu Pranoto Mongso mulai ramai diperbincangkan publik. Kegiatan tersebut membawa semangat kebangkitan peradaban, pelestarian nilai leluhur, serta ajakan untuk kembali kepada jati diri manusia yang beradab dan bermartabat.
Dalam papan informasi utama kegiatan tersebut tertulis pesan besar tentang “Bangkitnya Penataan Tatanan Peradaban Jaman Kembali Jati Diri Setiap Diri Suku Bangsa Manusia di Seluruh Penjuru Dunia”. Narasi tersebut dinilai menjadi refleksi mendalam terhadap kondisi sosial, budaya, hingga moralitas masyarakat modern yang tengah menghadapi berbagai tantangan global.
Pagelaran yang mengangkat filosofi “Jawa Dwipa Mahesa Purwa Nusantara Langgeng Semesta Raya” itu digagas sebagai ruang pemersatu nilai budaya, spiritualitas, dan kemanusiaan lintas golongan. Sosok Mbah Supono, yang dikenal sebagai pengemban paguyuban Serikat Manusia Merdeka, disebut menjadi salah satu tokoh yang aktif menyuarakan pentingnya menjaga harmoni manusia dengan alam, budaya, dan kehidupan sosial masyarakat.
Nuansa alam yang asri serta keberadaan bambu dan lingkungan hijau di sekitar lokasi semakin memperkuat simbol keseimbangan antara manusia dan semesta. Pesan yang diusung tidak hanya menyoroti aspek spiritual, namun juga mengandung ajakan moral agar masyarakat kembali menjunjung tinggi gotong royong, persatuan, toleransi, dan nilai kemanusiaan.
Menurut sejumlah pemerhati budaya, kebangkitan identitas lokal dan nilai-nilai kearifan Nusantara menjadi bagian penting dalam menghadapi derasnya arus modernisasi dan krisis identitas generasi muda. Karena itu, pagelaran semacam ini dinilai bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bentuk edukasi sosial dan budaya yang memiliki makna mendalam bagi masyarakat luas.
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak tercerabut dari akar budayanya. Ketika manusia kembali memahami jati dirinya, maka akan lahir peradaban yang kuat, damai, dan bermartabat,” ungkap salah satu tokoh masyarakat yang hadir di lokasi kegiatan.
Selain menjadi ruang refleksi budaya, kegiatan tersebut juga diharapkan mampu mendorong tumbuhnya kesadaran kolektif masyarakat terhadap pentingnya menjaga persatuan bangsa di tengah dinamika sosial yang terus berkembang. Semangat “Jagad Semesta Raya” dinilai menjadi simbol persaudaraan universal yang menempatkan manusia sebagai bagian dari keseimbangan alam semesta.
Kehadiran pagelaran ini pun mulai menarik perhatian masyarakat lintas daerah yang penasaran dengan nilai filosofi dan pesan kebudayaan yang diangkat. Tidak sedikit warga yang menganggap kegiatan tersebut sebagai bentuk pengingat agar masyarakat Indonesia tetap memegang teguh identitas, adat, dan nilai luhur Nusantara di tengah perubahan zaman.
Dengan mengusung semangat kebangkitan peradaban dan kemanusiaan universal, “Pagelaran Agung Jagad Semesta Raya” diharapkan menjadi momentum lahirnya kesadaran baru tentang pentingnya menjaga warisan budaya, memperkuat persatuan, serta membangun masa depan bangsa yang lebih harmonis, damai, dan berkeadaban.
(Redaksi Media Nasional Ganesha Abadi)
















