BANYUWANGI — Di tengah meningkatnya ancaman krisis lingkungan dan berkurangnya sumber mata air di berbagai daerah, Kabupaten Banyuwangi masih menyimpan salah satu warisan alam paling berharga yang terus bertahan lintas zaman. Mata Air Gedor di kawasan lereng Gunung Ijen kini tidak hanya menjadi sumber utama kebutuhan air bersih masyarakat, tetapi juga berkembang sebagai pusat wisata edukasi lingkungan dan konservasi sumber daya air.
Berada di kawasan hijau Desa Gombengsari, Kecamatan Kalipuro, sumber mata air bersejarah ini telah beroperasi sejak era kolonial Belanda dan hingga kini tetap menjadi salah satu tulang punggung distribusi air bersih di Banyuwangi.
Keberadaan sumber air tersebut menjadi bukti nyata pentingnya pelestarian kawasan hutan dan ekosistem alami sebagai penyangga utama keberlangsungan sumber daya air masyarakat.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menilai kawasan Sumber Gedor memiliki nilai strategis bukan hanya dari sisi utilitas publik, tetapi juga sebagai sarana pendidikan lingkungan hidup bagi generasi muda.
“Ini bukan sekadar sumber air, tetapi bagian dari warisan daerah yang harus dijaga bersama. Anak-anak perlu memahami sejak dini bahwa keberlangsungan air sangat bergantung pada kepedulian terhadap lingkungan,” ujar Ipuk saat meninjau kawasan tersebut.
Kawasan Sumber Gedor sendiri memiliki karakter alam yang masih sangat terjaga. Vegetasi lebat dengan berbagai jenis pohon besar mengelilingi area mata air, menciptakan suasana sejuk sekaligus menjaga stabilitas debit air yang hingga kini tetap mengalir meski telah berusia hampir satu abad.
PUDAM Banyuwangi sebagai pengelola menerapkan sistem distribusi tertutup guna memastikan kualitas dan kemurnian air tetap terjaga hingga sampai ke masyarakat.
Direktur PUDAM Banyuwangi, Abdurrahman, menjelaskan bahwa kualitas air dari Sumber Gedor telah melalui pengujian laboratorium dan dinyatakan kaya kandungan mineral alami yang baik bagi kesehatan.
Selain menjaga fungsi utamanya sebagai sumber air bersih, kawasan ini kini mulai dikembangkan menjadi wisata edukasi berbasis lingkungan. Para pelajar dan pengunjung diperkenalkan secara langsung pada proses pengelolaan air alami, pentingnya konservasi hutan, hingga pemahaman mengenai rantai distribusi air ke rumah-rumah warga.
Konsep wisata edukatif tersebut dinilai menjadi langkah strategis dalam membangun kesadaran lingkungan di tengah tantangan perubahan iklim dan meningkatnya ancaman kerusakan sumber daya alam.
Tidak hanya itu, keberadaan Sumber Gedor juga memiliki nilai historis tinggi karena termasuk infrastruktur air peninggalan kolonial yang masih berfungsi optimal hingga saat ini. Hal tersebut menjadikan kawasan ini memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata edukasi sekaligus cagar budaya daerah.
Dengan perpaduan kekuatan sejarah, konservasi lingkungan, dan edukasi masyarakat, Sumber Gedor kini menjadi representasi nyata pembangunan daerah berbasis potensi sumber daya alam yang berkelanjutan.
Banyuwangi pun kembali menunjukkan bahwa pengelolaan sumber daya air tidak cukup hanya berorientasi pada pemanfaatan, tetapi juga harus dibarengi perlindungan lingkungan dan pendidikan publik demi menjaga keberlangsungan kehidupan generasi mendatang.
(Redaksi – Media Nasional Ganesha Abadi)
















