BANYUWANGI – Di kawasan lereng Songgon, Kabupaten Banyuwangi, berdiri sebuah lembaga pendidikan dan kebudayaan yang terus menguatkan perannya sebagai pusat pembinaan generasi berkarakter. Yayasan Bumi Suroyo menjadi salah satu simpul strategis penguatan nilai sejarah, spiritualitas, dan kebangsaan di ujung timur Pulau Jawa.
Didirikan pada 2018 oleh Ki Ageng Bumi Suroyo, yayasan ini dirancang bukan sekadar sebagai tempat aktivitas seremonial, melainkan ruang kaderisasi yang berpijak pada empat fondasi utama: kebudayaan, pendidikan umum, keagamaan, dan sosial kemasyarakatan. Konsep tersebut menjadikan Bumi Suroyo tampil sebagai pusat pembelajaran alternatif yang berorientasi pada pembentukan jati diri bangsa.
Sentra Pendidikan dan Kolaborasi Organisasi
Sejak berdiri, pendopo dan fasilitas yayasan kerap dimanfaatkan berbagai elemen masyarakat untuk kegiatan edukatif dan penguatan kapasitas organisasi. Mulai dari pelatihan kepemudaan, diskusi kebangsaan, hingga pembinaan karakter berbasis nilai lokal.
Sejumlah organisasi seperti IPNU, IPPNU, Gerakan Pemuda Ansor, Pagar Nusa, serta Palang Merah Indonesia tercatat pernah menggelar kegiatan di lokasi tersebut. Model keterbukaan ruang ini dinilai memperkuat ekosistem pendidikan nonformal di Banyuwangi.
Tak hanya itu, Bumi Suroyo juga menjadi titik konsolidasi sejumlah elemen perjuangan kultural dan keagamaan tingkat daerah. Kehadirannya memperlihatkan pola kolaborasi antara pelestarian budaya dan pembinaan nilai keislaman yang moderat serta berakar pada tradisi Nusantara.
Menguatkan Narasi Sejarah Blambangan
Salah satu agenda penting yang terus dikedepankan adalah penguatan literasi sejarah lokal. Yayasan ini menempatkan sejarah Blambangan sebagai bagian integral dari identitas Banyuwangi yang perlu dikenalkan secara utuh kepada generasi muda.
Nama “Bumi Suroyo” sendiri merujuk pada jejak historis wilayah tersebut yang diyakini memiliki keterkaitan dengan perjuangan rakyat Blambangan melawan kolonialisme pada abad ke-18, termasuk dalam rangkaian peristiwa heroik yang dikenal sebagai Puputan Bayu. Dalam berbagai kajian lokal, perang tersebut menjadi simbol perlawanan total rakyat terhadap penjajahan.
Pendiri yayasan menyebutkan, saat proses pembangunan awal, ditemukan sejumlah artefak tradisional seperti bilah senjata dan benda logam kuno yang diduga berasal dari era konflik tersebut. Temuan ini memperkuat keyakinan bahwa kawasan tersebut memiliki nilai historis penting yang layak diteliti lebih lanjut secara akademik.
Pendidikan Karakter Berbasis Nilai Nusantara
Di tengah derasnya arus globalisasi, Yayasan Bumi Suroyo menekankan pentingnya pendidikan karakter berbasis nilai kearifan lokal. Spirit yang diusung adalah membangun generasi yang memahami akar sejarahnya, menghormati tradisi, serta memiliki daya kritis terhadap dinamika sosial.
Pendekatan ini dinilai relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini, khususnya dalam memperkuat identitas kebangsaan tanpa kehilangan keterbukaan terhadap perkembangan zaman. Kegiatan diskusi sejarah, pelatihan kepemimpinan, hingga penguatan spiritualitas menjadi bagian dari agenda rutin yang digelar.
Dorongan Pelestarian Situs Budaya Banyuwangi
Keberadaan Yayasan Bumi Suroyo juga memunculkan harapan agar pemerintah daerah maupun pusat semakin serius dalam mendukung pelestarian situs-situs bernilai sejarah di Banyuwangi. Sinergi antara komunitas, akademisi, dan pemerintah dianggap penting guna memastikan narasi sejarah lokal terdokumentasi secara ilmiah dan berkelanjutan.
Dengan visi jangka panjang sebagai pusat pendidikan sejarah dan kebudayaan, Yayasan Bumi Suroyo Songgon Banyuwangi terus menegaskan komitmennya untuk menjadi ruang pembelajaran terbuka bagi masyarakat. Di tengah tantangan zaman, lembaga ini berupaya menjaga marwah Nusantara melalui pendidikan, kolaborasi, dan penguatan identitas bangsa.
(Red)
















