BANYUWANGI – Kondisi infrastruktur di wilayah pedesaan kembali memantik keprihatinan serius. Jembatan penghubung utama di Desa Bayu, Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi, dilaporkan ambrol dan tidak dapat dilalui, menyebabkan aktivitas warga lumpuh dan risiko keselamatan meningkat tajam. Hingga kini, belum ada penanganan nyata di lapangan, meski informasi anggaran disebut telah tersedia.
Peristiwa ambrolnya jembatan yang berada di Bayurejo, Desa Bayu, terjadi di tengah curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah Banyuwangi bagian barat. Struktur jembatan yang terkikis aliran air akhirnya runtuh, menyisakan lubang besar yang mengancam nyawa pengguna jalan, baik pejalan kaki maupun pengendara roda dua.
Jalan tersebut bukan sekadar akses biasa. Inilah satu-satunya jalur pendukung dan akses utama warga, yang menghubungkan aktivitas pertanian, pendidikan, pekerjaan, hingga mobilitas harian masyarakat desa.
“Yang terganggu dengan adanya jembatan ambrol ini, kami warga Bayu merasakan dampak yang luar biasa. Dari sisi keselamatan sangat rawan, dari sisi ekonomi pengeluaran kami membengkak karena harus memutar jauh. Ini akses utama untuk pertanian, sekolah, pekerjaan, dan aktivitas warga lainnya,” tegas Yulia Erlina, Kepala Desa Bayu, dalam wawancara bersama Media Nasional Ganesha Abadi.
Anggaran Disebut Ada, Namun Realisasi Tak Kunjung Datang
Ironisnya, warga telah berulang kali menerima penjelasan bahwa penanganan jembatan telah dianggarkan. Namun, hingga hari ini, yang terlihat di lapangan hanyalah pembatas darurat dari bambu dan kayu, tanpa kehadiran alat berat maupun pekerjaan fisik perbaikan.
“Kami tahu jawabannya selalu sama, katanya sudah dianggarkan dan tinggal bersabar. Tapi kenyataannya, sampai sekarang bantuan belum kunjung datang. Sementara warga setiap hari harus mempertaruhkan keselamatan,” ungkap Yulia dengan nada prihatin.
Kondisi ini dinilai tidak sebanding dengan risiko yang ditanggung masyarakat, terutama anak-anak sekolah, petani, dan pekerja harian yang tetap harus melintas demi memenuhi kebutuhan hidup.
Rawan Bencana Susulan, Pemerintah Diminta Bertindak Cepat
Dengan intensitas hujan yang masih tinggi, kekhawatiran akan ambrol susulan menjadi ancaman nyata. Struktur tanah di sekitar jembatan dinilai labil, sementara aliran air terus menggerus fondasi yang tersisa.
“Kami sangat berharap pemerintah daerah segera bertindak. Jangan sampai menunggu korban jiwa baru ada tindakan. Jalan ini satu-satunya akses kami. Tolong jangan tutup mata,” kata Yulia Erlina.
Ia menegaskan, pemerintah daerah memiliki kewajiban konstitusional untuk menjamin keselamatan warganya melalui infrastruktur yang layak dan aman.
Harapan Warga: Tindakan Nyata, Bukan Sekadar Janji
Warga Desa Bayu tidak menuntut hal berlebihan. Mereka hanya berharap respons cepat, kehadiran nyata pemerintah, dan percepatan pembangunan jembatan agar roda kehidupan desa kembali berjalan normal.
“Harapan kami sederhana. Segera ada tanggapan dan tindakan. Agar kami bisa sedikit lega ketika beraktivitas, ketika mengantar anak sekolah, ke ladang, dan bekerja,” pungkas Yulia.
Melalui pemberitaan Media Nasional Ganesha Abadi, Kepala Desa Bayu berharap aspirasi dan jeritan warganya benar-benar sampai ke telinga Bupati Banyuwangi dan jajaran Pemerintah Kabupaten, bukan sekadar menjadi laporan yang berakhir di meja birokrasi.
Catatan Redaksi
Keterlambatan penanganan infrastruktur vital seperti jembatan desa bukan hanya soal teknis, melainkan soal keberpihakan, kehadiran negara, dan tanggung jawab moral pemerintah terhadap keselamatan rakyatnya. Ketika anggaran ada namun tindakan absen, maka yang dipertaruhkan adalah nyawa dan masa depan masyarakat pedesaan.
Narasumber:
Yulia Erlina
Kepala Desa Bayu
Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi
Liputan & Wawancara:
Media Nasional Ganesha Abadi
















