BANYUWANGI – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banyuwangi kembali menegaskan perannya sebagai institusi pembinaan yang adaptif, produktif, dan berorientasi masa depan. Melalui optimalisasi Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) di Kelurahan Pakis, Lapas Banyuwangi menebar sebanyak 2.000 benih ikan nila sebagai bagian dari penguatan program pembinaan kemandirian warga binaan, Selasa (6/1/2026).
Langkah strategis ini menjadi bukti konkret transformasi pembinaan pemasyarakatan yang tidak hanya berfokus pada aspek keamanan, tetapi juga pada pemberdayaan sumber daya manusia, peningkatan keterampilan kerja, serta kontribusi nyata terhadap ketahanan pangan nasional.
Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Kepala Seksi Kegiatan Kerja (Kasi Giatja) Lapas Banyuwangi, Priyo Asmanto, yang menegaskan bahwa optimalisasi lahan SAE merupakan bagian dari desain besar pembinaan produktif berkelanjutan.
“Lahan SAE kami hidupkan sebagai ruang belajar dan praktik nyata bagi warga binaan. Bukan sekadar kegiatan rutin, tetapi sarana pembentukan keterampilan, mental kerja, dan kesiapan reintegrasi sosial,” tegas Priyo.
Ribuan benih ikan nila yang ditebar merupakan hasil sinergi kolaboratif antara Lapas Banyuwangi dan Dinas Perikanan Kabupaten Banyuwangi, mencerminkan kuatnya dukungan lintas sektor dalam mendukung program pembinaan di lingkungan pemasyarakatan.
“Kami mengapresiasi dukungan penuh dari Dinas Perikanan Kabupaten Banyuwangi. Bantuan ini memiliki nilai strategis karena langsung menyentuh aspek edukasi, produktivitas, dan kemandirian warga binaan,” ungkapnya.
Priyo menjelaskan, seluruh proses pemeliharaan hingga pembesaran ikan akan dikelola langsung oleh warga binaan yang tengah menjalani masa asimilasi, dengan tetap berada dalam sistem pendampingan dan pengawasan intensif oleh petugas Lapas. Pendekatan ini tidak hanya melatih keterampilan teknis di bidang perikanan, tetapi juga membangun rasa tanggung jawab, disiplin, serta etos kerja.
“Pendampingan dilakukan secara terukur dan berkelanjutan agar program ini benar-benar berhasil hingga masa panen, serta memberikan hasil yang optimal,” jelasnya.
Lebih jauh, kegiatan ini selaras dengan 15 Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, khususnya Program Aksi ke-8, yakni penguatan kemandirian pangan melalui sektor pertanian, perikanan, dan peternakan di Lapas dan Rutan dengan memanfaatkan lahan idle secara maksimal.
“Ini adalah bagian dari komitmen kami mendukung kebijakan nasional. Lapas bukan hanya tempat pembinaan, tetapi juga pusat edukasi produktif yang mampu berkontribusi bagi masyarakat dan negara,” pungkas Priyo.
Dengan optimalisasi lahan SAE dan penguatan program perikanan ini, Lapas Banyuwangi terus memantapkan langkah menuju pemasyarakatan modern—humanis, produktif, dan berorientasi pada masa depan warga binaan yang lebih mandiri dan berdaya saing.
(Red)
















