BANYUWANGI, 19 Februari 2026 – Ketegangan tak berhenti di ruang sidang. Pascah hearing di DPRD Banyuwangi, suasana justru memanas di luar gedung dewan ketika sejumlah pejabat daerah dan perwakilan LSM kembali terlibat perdebatan sengit terkait polemik tambang emas di kawasan Tumpang Pitu.
Pantauan di lokasi menunjukkan adu argumentasi berlanjut di halaman dan lorong gedung DPRD. Nada suara meninggi. Gestur tegas terlihat dari kedua belah pihak. Sejumlah peserta hearing tampak berkerumun menyaksikan perdebatan yang berlangsung terbuka.
Perdebatan Berlanjut di Luar Forum Resmi
Jika di dalam ruang sidang perdebatan masih terbingkai tata tertib, di luar forum diskusi berlangsung lebih lepas dan emosional.
LSM kembali mempertanyakan transparansi pengelolaan tambang, dampak lingkungan, serta manfaat ekonomi riil bagi masyarakat Banyuwangi. Mereka menilai jawaban yang disampaikan dalam hearing belum menjawab substansi kekhawatiran publik.
Sebaliknya, pihak pejabat menegaskan bahwa semua kebijakan telah melalui prosedur dan regulasi yang berlaku. Mereka juga menilai sebagian kritik terlalu pesimistis dan belum mempertimbangkan aspek legal serta teknis secara utuh.
Beberapa kali terdengar pernyataan saling menyanggah, bahkan tudingan asumsi sepihak. Situasi tersebut sempat membuat suasana di luar gedung memanas sebelum akhirnya diredam oleh aparat dan staf sekretariat dewan.
Tumpang Pitu Kembali Memicu Polarisasi
Kawasan Tumpang Pitu kembali menjadi episentrum polemik publik. Ketegangan yang berlanjut di luar hearing menunjukkan bahwa persoalan tambang emas di Banyuwangi tidak sekadar isu teknis, melainkan telah menyentuh dimensi sosial dan politik lokal.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi lanjutan dari eksekutif maupun DPRD terkait insiden bersitegang tersebut. Namun satu hal menjadi catatan penting: dialog yang belum menemukan titik temu berpotensi memperpanjang ketegangan di tengah masyarakat.
Publik Banyuwangi kini menunggu langkah konkret—apakah akan dibuka ruang mediasi lanjutan, atau justru polemik ini akan terus berlanjut di ruang publik.
(Red)
















