BANYUWANGI – Pengembangan pariwisata berbasis budaya di Kabupaten Banyuwangi kian menunjukkan hasil nyata. Desa Wisata Adat Osing Kemiren, Kecamatan Glagah, menjadi contoh konkret bagaimana sektor pariwisata mampu menciptakan kesejahteraan ekonomi yang inklusif, berkelanjutan, dan berakar kuat pada kearifan lokal.
Kemiren tidak hanya menjelma sebagai destinasi budaya unggulan, tetapi juga sebagai ruang hidup ekonomi warga. Dari generasi muda hingga lanjut usia, masyarakat desa turut merasakan manfaat langsung dari geliat wisata yang tumbuh secara konsisten dalam beberapa tahun terakhir.
Salah satu potret nyata datang dari warga lanjut usia yang tetap produktif berkat pariwisata. Keahlian memasak kuliner tradisional Osing yang diwariskan turun-temurun kini bernilai ekonomi. Menu khas seperti Pecel Pitik dan Ayam Kesrut menjadi daya tarik utama wisatawan yang mencari pengalaman autentik, sekaligus sumber penghasilan tambahan bagi para sesepuh desa.
Model pariwisata berbasis partisipasi warga ini menjadikan lansia tetap berdaya tanpa harus melakukan pekerjaan fisik berat. Pariwisata hadir sebagai solusi sosial-ekonomi yang manusiawi dan bermartabat.
Di sisi lain, kalangan muda Kemiren justru menemukan ruang aktualisasi tanpa harus meninggalkan desa. Mereka terlibat aktif sebagai pelaku jasa wisata, pengelola kuliner, pemandu budaya, hingga promotor tradisi lokal. Pelestarian budaya tidak lagi sekadar slogan, tetapi menjadi aktivitas produktif yang menghasilkan nilai ekonomi nyata bagi keluarga.
Keberlanjutan ekosistem wisata Kemiren juga ditopang oleh tumbuhnya unit usaha masyarakat. Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) mencatat, sedikitnya 22 usaha mikro dan kecil bergerak di sektor makanan, minuman, serta produk sandang khas Osing. Selain itu, terdapat 40 unit homestay yang mayoritas dikelola langsung oleh warga dengan memanfaatkan rumah tinggal sebagai penginapan wisata.
Tak hanya ekonomi, denyut budaya pun tetap terjaga. Sebanyak 18 sanggar seni adat Osing masih aktif dan rutin tampil dalam berbagai agenda wisata. Keberadaan sanggar ini memastikan bahwa pariwisata di Kemiren tidak menggerus identitas budaya, melainkan justru memperkuatnya.
Dari sisi kunjungan, Desa Wisata Kemiren secara konsisten menerima 2.000 hingga 4.000 wisatawan per tahun pascapandemi. Sebelum Covid-19, angka kunjungan bahkan sempat menembus 18.000 wisatawan pada 2019, menjadi capaian tertinggi sepanjang sejarah desa tersebut. Upaya pemulihan dan peningkatan kualitas atraksi budaya terus dilakukan untuk mengembalikan dan melampaui capaian itu.
Capaian Kemiren juga diakui di tingkat nasional dan internasional. Desa ini berhasil meraih Anugerah Desa Wisata Indonesia 2024, The 5th ASEAN Homestay Award dalam Asean Tourism Award (ATA) 2025, serta masuk dalam The Best Tourism Villages Upgrade Programme oleh United Nations Tourism (UN Tourism), badan pariwisata Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Prestasi tersebut menegaskan bahwa Desa Wisata Adat Osing Kemiren bukan sekadar destinasi, melainkan model pembangunan pariwisata yang berkeadilan, berkelanjutan, dan berpihak pada masyarakat lokal.
Pariwisata di Kemiren telah membuktikan satu hal penting: ketika budaya dijaga dan masyarakat dilibatkan secara penuh, pariwisata mampu menjadi mesin kesejahteraan tanpa kehilangan jati diri.
(Redaksi)
















