BANYUWANGI – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Banyuwangi menegaskan komitmen kebangsaan dalam momentum Tasyakuran dan Dialog Kebangsaan Khidmat HMI untuk Indonesia, memperingati 79 tahun perjalanan organisasi sejak 5 Februari 1947 hingga 5 Februari 2026. Kegiatan berlangsung khidmat di Aula Makodim 0825/Banyuwangi, Jalan RA Kartini Nomor 02, Kepatihan, Selasa (10/2/2026).
Momentum ini bukan sekadar seremoni historis, melainkan ruang refleksi ideologis dan konsolidasi moral kader di tengah dinamika sosial, politik, dan kebangsaan yang terus berkembang. HMI Banyuwangi menegaskan posisinya sebagai organisasi mahasiswa Islam yang konsisten merawat nilai keislaman, keindonesiaan, dan intelektualitas secara berimbang.
Dialog kebangsaan tersebut dihadiri Mayor Kav Suprapto selaku Pasipers Kodim 0825/Banyuwangi, perwakilan Polresta Banyuwangi, Koordinator Presidium KAHMI Banyuwangi, FORHATI Banyuwangi, para kader HMI, serta undangan lintas elemen masyarakat. Kehadiran unsur TNI–Polri bersama elemen mahasiswa menjadi simbol sinergi strategis dalam menjaga stabilitas, memperkuat wawasan kebangsaan, serta memperkokoh semangat persatuan dalam bingkai NKRI.
Dalam forum dialog, peserta membedah tantangan generasi muda di era disrupsi informasi, polarisasi sosial, serta krisis keteladanan publik. Diskursus mengerucut pada pentingnya kader HMI tampil sebagai agen moderasi, penjaga etika publik, dan penggerak transformasi sosial berbasis nilai.
Ketua Umum HMI Cabang Banyuwangi, Ilham Layli Mursidi, menegaskan bahwa usia 79 tahun adalah fase kematangan organisasi untuk semakin relevan dan progresif.
“Tasyakuran ini bukan sekadar peringatan historis. Ini adalah momentum peneguhan komitmen bahwa HMI harus terus hadir sebagai mitra strategis negara, menjaga nalar kritis, merawat etika publik, serta memperluas pengabdian sosial yang konkret,” tegas Ilham.
Ia menambahkan, HMI tidak boleh terjebak dalam romantisme sejarah. Sebaliknya, kader harus mampu melahirkan gagasan konstruktif, responsif terhadap problematika lokal Banyuwangi maupun isu kebangsaan yang lebih luas.
Konsolidasi nilai kebangsaan yang digaungkan dalam dialog ini menekankan pentingnya keseimbangan antara keislaman dan keindonesiaan. HMI diposisikan sebagai ruang kaderisasi intelektual yang membentuk karakter pemimpin masa depan: berintegritas, visioner, dan berpihak pada kepentingan rakyat.
Tasyakuran 79 Tahun HMI Cabang Banyuwangi menjadi penegasan bahwa organisasi mahasiswa bukan sekadar wadah diskusi, melainkan laboratorium kepemimpinan dan benteng moral bangsa. Dari Banyuwangi, semangat khidmat untuk Indonesia terus dirawat—demi Indonesia yang beradab, inklusif, dan berkemajuan.
(Redaksi Ganesha Abadi)
















