BANYUWANGI – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banyuwangi menegaskan komitmennya dalam pemenuhan hak dasar warga binaan melalui penguatan layanan kesehatan komprehensif. Bersinergi dengan Puskesmas Mojopanggung, Lapas Banyuwangi menggelar pemeriksaan kesehatan rutin sekaligus Voluntary Counseling and Testing (VCT) HIV, Rabu (11/02), di Aula Sahardjo.
Sebanyak 50 warga binaan mengikuti pemeriksaan menyeluruh yang mencakup pengecekan tanda vital, konsultasi medis, serta pengambilan sampel darah untuk deteksi dini penyakit menular, khususnya HIV/AIDS. Langkah ini menjadi bagian dari strategi preventif guna memastikan lingkungan hunian tetap sehat dan terkendali dari potensi penularan penyakit.
Kepala Lapas Banyuwangi, Wayan, menegaskan bahwa hak atas pelayanan kesehatan tetap melekat pada setiap warga binaan dan menjadi tanggung jawab negara untuk memenuhinya secara optimal.
“Kami ingin memastikan seluruh warga binaan dalam kondisi sehat secara fisik maupun mental. Deteksi dini melalui VCT memungkinkan langkah pencegahan dan penanganan lebih cepat apabila ditemukan indikasi gangguan kesehatan. Ini bagian dari komitmen kami menciptakan lingkungan lapas yang sehat dan aman,” tegas Wayan.
Ia menjelaskan, pelaksanaan pemeriksaan dilakukan secara bertahap mengingat jumlah penghuni lapas yang cukup besar. Targetnya, seluruh warga binaan akan memperoleh skrining kesehatan yang setara tanpa terkecuali.
“Hari ini 50 warga binaan telah mengikuti pemeriksaan. Program ini akan berlanjut hingga menjangkau seluruh penghuni. Kami ingin memastikan tidak ada yang terlewat dari layanan kesehatan,” imbuhnya.
Kolaborasi antara Lapas Banyuwangi dan Puskesmas Mojopanggung bukan sekadar pemeriksaan medis, tetapi juga penguatan edukasi. Tim medis memberikan penyuluhan tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) guna menumbuhkan kesadaran kolektif menjaga kebersihan pribadi dan lingkungan blok hunian.
PJ HIV/AIDS Puskesmas Mojopanggung, Diah Retno Utami, menyampaikan apresiasi atas keterbukaan pihak lapas dalam mendukung skrining kesehatan di lingkungan berisiko tinggi.
“Kami mengapresiasi kesiapan Lapas Banyuwangi dalam memfasilitasi kegiatan ini. Lima puluh warga binaan sangat kooperatif. Tujuan kami bukan hanya menemukan kasus sejak dini, tetapi membangun pemahaman bahwa kesehatan adalah aset penting selama menjalani masa pembinaan,” ujarnya.
Langkah strategis ini menjadi bagian dari penguatan sistem pembinaan berbasis kesehatan di Lapas Banyuwangi. Dengan skrining berkala dan edukasi berkelanjutan, diharapkan tercipta lingkungan pemasyarakatan yang sehat, produktif, serta minim risiko penyebaran penyakit menular.
(Redaksi Ganesha Abadi)
















