BANYUWANGI — Polemik penetapan Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kabupaten Banyuwangi kian memanas. Keputusan yang menetapkan figur dengan dukungan terendah dalam penjaringan Pengurus Anak Cabang (PAC) sebagai Ketua DPC menuai penolakan terbuka dari kader senior partai.
Berdasarkan data penjaringan PAC se-Kabupaten Banyuwangi, dukungan mayoritas kader akar rumput secara signifikan mengerucut pada beberapa nama. Namun hasil tersebut tidak tercermin dalam keputusan akhir, sehingga memicu kekecewaan dan resistensi internal.
Kader Senior PDIP Banyuwangi: Tidak Mengakui Kepengurusan DPC Baru
Penolakan keras datang dari Selamet Santoso, kader senior PDI Perjuangan Banyuwangi yang dikenal luas dengan sapaan Mbah Geger. Ia secara terbuka menyatakan tidak mengakui hasil penetapan DPC PDIP Banyuwangi yang baru.
“Kami tidak mengakui hasil dari DPC yang baru ini. Ya nanti kita bahas dulu lah, sementara ini kita biarkan hasilnya seperti apa. Yang penting kami tetap melaksanakan produk yang sudah dilakukan DPP,” tegas Selamet Santoso, Minggu (21/12/2025)
Namun demikian, Mbah Geger menilai proses yang terjadi sarat persoalan serius.
“Kami anggap dari pihak ini sudah tidak puas dan itu cacat secara hukum, karena sudah melampaui dan tidak mengikuti aturan yang ada,” lanjutnya.
Demokrasi Internal dan Etika Partai Dipertanyakan
Menurut Selamet Santoso, PDI Perjuangan adalah partai ideologis yang seharusnya menjunjung tinggi etika, demokrasi, dan transparansi dalam setiap pengambilan keputusan strategis, termasuk dalam penetapan pimpinan partai di daerah.
“Partai ini menjadi partai yang beretika, berdemokrasi yang sebenarnya itu harus transparan. Harus jujur-jujur dan adil,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa PDI Perjuangan Banyuwangi memiliki banyak kader potensial yang layak dipertimbangkan secara adil berdasarkan aspirasi struktur.
“Karena masih banyak kader-kader yang sangat luar biasa,” tandasnya.
Penjaringan PAC Dinilai Sekadar Formalitas
Penjaringan PAC sejatinya merupakan instrumen utama untuk menyerap kehendak kader akar rumput. PAC adalah ujung tombak partai yang selama ini bekerja langsung di tengah masyarakat, menjaga basis ideologis, dan menggerakkan mesin politik partai.
Ketika hasil penjaringan tersebut tidak dijadikan rujukan utama, bahkan bertolak belakang dengan peta dukungan yang ada, maka muncul anggapan bahwa proses tersebut hanya menjadi formalitas administratif tanpa nilai demokratis.
Sah Administratif, Lemah Legitimasi
Secara aturan internal, kewenangan penetapan Ketua DPC memang berada di tangan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDI Perjuangan. Namun keputusan yang mengabaikan aspirasi mayoritas PAC berpotensi menciptakan krisis legitimasi kepemimpinan di tingkat daerah.
Situasi ini dinilai berisiko menimbulkan:
- Ketegangan struktural berkepanjangan
- Melemahnya soliditas kader
- Penurunan militansi akar rumput
- Hambatan konsolidasi politik ke depan
Desakan Evaluasi dan Transparansi
Sejumlah kader dan elemen internal PDIP Banyuwangi mendesak agar:
- Dilakukan evaluasi menyeluruh atas proses Konfercab
- DPP dan DPD PDIP Jawa Timur memberikan penjelasan terbuka dan transparan
- Aspirasi PAC dikembalikan sebagai roh utama demokrasi internal partai
Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga marwah PDI Perjuangan sebagai partai ideologis yang berpihak pada nilai keadilan dan demokrasi.
Menjaga Marwah Partai dan Kepercayaan Kader
Keputusan yang sah secara administratif, namun mengabaikan rasa keadilan kader, berpotensi mencederai kepercayaan internal dan merusak fondasi ideologis partai. Tanpa legitimasi yang kuat dari akar rumput, kepemimpinan partai di daerah akan menghadapi tantangan serius dalam menjalankan fungsi organisasi dan politiknya.
(Red)
















