BANYUWANGI – Polemik harga gula kembali mengemuka di tengah musim giling 2026. Namun di balik perdebatan fluktuasi harga dan kebijakan pasar, muncul sorotan serius terhadap persoalan yang dinilai jauh lebih mendasar: kebocoran efisiensi dalam proses produksi gula nasional yang diduga bernilai triliunan rupiah setiap tahun.
Sejumlah kalangan petani dan pemerhati industri gula menilai, selama ini fokus diskusi publik terlalu berat pada isu harga, sementara problem teknis di lini produksi belum menjadi perhatian utama secara terbuka dan terukur.
“Isu harga memang penting, tetapi kebocoran proses produksi adalah persoalan fundamental yang harus dibenahi lebih dulu,” ujar Rifki Al Amudi dari DPC APTRI Banyuwangi dalam keterangan tertulisnya.
Potensi Kehilangan Produksi Gula Dinilai Signifikan
Secara teknis, dalam setiap proses pengolahan tebu menjadi gula kristal putih, terdapat residu berupa tetes (molasses) yang masih mengandung komponen gula dalam jumlah tertentu. Dalam praktik industri modern, kadar kehilangan tersebut ditekan seminimal mungkin melalui optimalisasi kristalisasi dan kontrol proses yang presisi.
Namun sejumlah data teknis menunjukkan bahwa volume tetes nasional masih relatif tinggi dibanding standar efisiensi pabrik gula modern.
Jika diasumsikan produksi tebu nasional berkisar 35 juta ton per tahun dengan rasio tetes sekitar 4–5 persen, maka potensi kehilangan gula yang tidak terkristalkan dapat mencapai ratusan ribu ton per tahun.
Dengan harga gula konsumsi domestik berada di kisaran Rp14.000–Rp15.000 per kilogram, nilai ekonominya diperkirakan mendekati Rp2 triliun setiap musim giling.
Angka ini dinilai cukup signifikan dalam konteks target swasembada gula dan penguatan daya saing industri nasional.
Modernisasi Teknologi Jadi Kata Kunci
Dibandingkan negara produsen utama seperti Brasil dan Thailand, tingkat efisiensi ekstraksi dan kristalisasi di sejumlah pabrik gula Indonesia dinilai masih tertinggal.
Di kedua negara tersebut, modernisasi mesin, sistem otomasi, serta pengawasan kualitas berbasis data menjadi pilar utama peningkatan produktivitas.
Sementara di dalam negeri, sebagian pabrik gula masih beroperasi dengan peralatan berusia puluhan tahun, menghadapi tantangan downtime tinggi, serta keterbatasan investasi peremajaan.
Pengamat industri menilai, tanpa pembaruan teknologi dan tata kelola berbasis efisiensi, ketergantungan pada kebijakan proteksi harga tidak akan menyelesaikan akar persoalan daya saing.
Petani Tebu Soroti Keadilan Rantai Produksi
Isu efisiensi tidak hanya berdampak pada korporasi, tetapi juga pada petani tebu sebagai mitra utama industri.
Petani selama ini didorong meningkatkan produktivitas lahan dan kualitas tebu. Namun jika proses pengolahan di pabrik belum optimal, maka nilai tambah yang dihasilkan tidak maksimal.
Kondisi tersebut dinilai perlu evaluasi menyeluruh agar tidak menimbulkan ketimpangan dalam pembagian manfaat rantai produksi gula nasional.
“Perbaikan efisiensi bukan hanya soal keuntungan industri, tetapi soal keadilan sistem,” tegas Rifki.
Momentum Reformasi Industri Gula
Pemerintah dalam beberapa tahun terakhir menggulirkan agenda transformasi sektor gula nasional, termasuk peningkatan kapasitas produksi dan perbaikan tata niaga.
Namun reformasi struktural dinilai harus dibarengi dengan audit teknis menyeluruh terhadap performa pabrik, transparansi data rendemen, serta target efisiensi yang terukur.
Tanpa indikator kinerja berbasis efisiensi proses, target peningkatan produksi berisiko hanya menjadi angka di atas kertas.
Seruan Evaluasi Terbuka dan Akuntabel
Kalangan pemerhati industri mendesak agar dilakukan:
- Audit independen tingkat kehilangan gula di pabrik
- Standarisasi nasional batas maksimal losses produksi
- Percepatan modernisasi mesin dan sistem kontrol
- Transparansi data rendemen dan output riil
Langkah tersebut dinilai lebih konstruktif dibanding sekadar memperdebatkan fluktuasi harga setiap musim giling.
Industri gula adalah sektor strategis yang menyangkut hajat hidup petani, stabilitas pangan, dan ketahanan ekonomi nasional.
Jika potensi kebocoran produksi benar terjadi dalam skala besar, maka pembenahan efisiensi harus menjadi prioritas utama.
Perdebatan harga boleh terus berlangsung. Namun tanpa perbaikan mendasar pada proses produksi, daya saing industri gula nasional akan sulit meningkat secara berkelanjutan.
Media Nasional Ganesha Abadi akan terus mengawal isu ini sebagai bagian dari komitmen terhadap transparansi, akuntabilitas, dan penguatan sektor industri berbasis data dan fakta.
(Red)
















