BANYUWANGI — Program Bupati Ngantor di Desa (Bunga Desa) kembali menjadi ruang percepatan pengembangan potensi lokal. Saat menyambangi empat desa di kawasan lereng Gunung Ijen, Senin (8/12/2025), Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menegaskan komitmennya untuk menempatkan warga sebagai motor utama pengembangan destinasi wisata Ijen Golden Route—rute wisata emas yang sedang naik daun dalam peta pariwisata Jawa Timur.
Ijen Golden Route merupakan jalur wisata yang merangkum berbagai hidden gem di lereng Ijen, mulai dari wisata petik buah, sentra kopi rakyat, air terjun, kuliner tradisional, hingga homestay bernuansa budaya yang dikelola warga lokal. Konsep ini dirancang untuk menghadirkan pengalaman perjalanan yang autentik dan memberdayakan masyarakat.
“Potensi di sepanjang jalur ini luar biasa besar. Kami ingin masyarakat tidak sekadar menjadi penonton, tetapi benar-benar menjadi pengelola dan penentu arah pengembangan wisata,” tegas Ipuk dalam rangkaian kunjungannya, Selasa (9/12/2025).
Eksplorasi Destinasi Baru di Empat Desa
Dalam kegiatan Bunga Desa di Tamansari, Pakel, Licin, dan Jelun, Ipuk meninjau sejumlah spot wisata yang baru dikembangkan warga. Salah satu yang menjadi perhatian adalah wisata petik strawberry di Desa Tamansari. Terletak tepat di tepi jalur menuju Kawah Ijen, destinasi ini menawarkan pengalaman memetik buah segar langsung dari kebunnya, dibuka setiap hari pukul 07.00–17.00 WIB.
Hanya beberapa langkah dari lokasi tersebut, Bupati Ipuk juga menyaksikan proses pengolahan kopi rakyat yang dikelola kelompok tani setempat. Mulai dari pulping, hulling, roasting, hingga grinding, seluruh proses ditampilkan sebagai bagian dari paket wisata edukatif.
“Wisata petik buah dan kopi sangat cocok untuk keluarga. Anak-anak bisa belajar langsung dari alam, sementara wisatawan dapat menikmati pengalaman yang berbeda,” ujar Ipuk, yang baru-baru ini dianugerahi Most Inspiring Tourism Leader oleh Kemenparekraf.
Homestay Buatan Warga Bangkitkan Ekonomi Desa
Ipuk juga mengunjungi homestay Pesona Java Ijen, salah satu penginapan yang dibangun dan dikelola langsung oleh warga Desa Tamansari. Homestay di wilayah Licin kini berkembang menjadi daya tarik tersendiri karena memadukan pemandangan sawah, pegunungan, serta paket wisata pengalaman seperti trekking dan bertani.
“Saya hanya ingin memanfaatkan peluang pariwisata untuk meningkatkan ekonomi keluarga dan desa,” kata Dani, pemilik Pesona Java Ijen. Upayanya dipuji oleh Bupati Ipuk sebagai bukti bahwa warga mampu menjadi penggerak pariwisata berbasis komunitas.
“Homestay lokal menawarkan interaksi langsung dengan masyarakat dan budaya desa. Ini nilai jual yang dicari wisatawan, apalagi bagi backpacker dengan anggaran terbatas,” imbuh Ipuk.
Peresmian Wisata Baru: Banyu Kuwung
Dalam rangkaian kunjungan, Ipuk juga meresmikan Banyu Kuwung, pemandian alami dengan air jernih yang kini menjadi destinasi anyar di Desa Licin. Keberadaan Banyu Kuwung menambah daftar panjang wisata alam di kaki Ijen, seperti Sendang Seruni, Air Terjun Kalibendo, dan Air Terjun Jagir yang terkenal dengan panorama air kembarnya.
Surga Kuliner Lereng Ijen
Di wilayah Licin, Ipuk turut menyoroti kekuatan kuliner warga yang menjadi penopang daya tarik wisata. Warung Kanggo Riko di Desa Segobang—yang dikenal dengan menu ayam kesrut khas Banyuwangi—menjadi rekomendasi utama. Setiap akhir pekan, Pasar Kuliner Jadoel di Desa Licin juga ramai dikunjungi wisatawan yang mencari panganan tradisional Banyuwangi.
Dorong Kemampuan Digital Warga Wisata
Untuk memperkuat kapasitas masyarakat, Ipuk meninjau pelatihan content creator bagi pengelola homestay yang sedang berlangsung di lokasi. Langkah ini diambil agar warga mampu mempromosikan produk wisata mereka secara mandiri dan lebih kompetitif di era digital.
“Terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi. Dengan gotong royong, kita bisa membangun pariwisata yang bukan hanya indah, tapi juga memberikan kesejahteraan bagi masyarakat,” tutup Ipuk.
(Red)
















