BANYUWANGI – Di tengah meningkatnya tantangan kehidupan rumah tangga dan kompleksitas hubungan sosial pada era digital, Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) Banyuwangi Kota mengambil langkah nyata dengan menghadirkan ruang edukasi keluarga yang menitikberatkan pada penguatan fondasi cinta, komunikasi, dan kesiapan mental menuju kehidupan berumah tangga.
Melalui program bertajuk “Keluh Kisah: Zona Curhat Seputar Keluarga”, yang digelar di Perpustakaan Universitas 17 Agustus (Untag) Banyuwangi, puluhan peserta dari kalangan generasi muda, mahasiswa, calon pasangan suami istri hingga keluarga muda mengikuti forum dialog yang sarat nilai keislaman, psikologis, dan sosial kemasyarakatan.
Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk kepedulian Nahdlatul Ulama terhadap fenomena meningkatnya persoalan keluarga yang belakangan menjadi perhatian publik. Tidak sedikit pasangan muda yang menghadapi persoalan rumah tangga akibat minimnya pemahaman tentang hakikat pernikahan, komunikasi, serta pengelolaan konflik dalam keluarga.
Wakil Ketua MWCNU Banyuwangi, H. Ahsanul Khuluq, menegaskan bahwa keluarga merupakan pondasi utama dalam membangun masyarakat yang sehat dan berdaya. Oleh karena itu, upaya pencegahan terhadap berbagai persoalan rumah tangga harus dimulai sejak sebelum seseorang memasuki jenjang pernikahan.
Menurutnya, edukasi keluarga bukan sekadar memberikan teori tentang kehidupan rumah tangga, tetapi juga membentuk kesiapan mental, emosional, dan spiritual bagi generasi muda agar mampu menghadapi realitas kehidupan setelah menikah.
“Ketahanan keluarga tidak lahir secara instan. Ia harus dibangun melalui pengetahuan, kedewasaan berpikir, kemampuan berkomunikasi, serta kesadaran bahwa pernikahan merupakan amanah yang membutuhkan tanggung jawab besar,” ujarnya.
Forum tersebut menghadirkan narasumber muda inspiratif, Lora Ismail Kholili, penulis buku Kompas Kehidupan, yang dikenal aktif menyampaikan kajian tentang keluarga, pendidikan karakter, dan pengembangan diri melalui berbagai forum literasi maupun media digital.
Dalam paparannya, ia mengajak peserta memahami bahwa cinta dalam perspektif Islam bukan sekadar perasaan, melainkan proses panjang yang membutuhkan komitmen, pengorbanan, dan kemampuan untuk terus belajar memahami pasangan.
Mengutip pemikiran para ulama klasik hingga kontemporer, ia menjelaskan bahwa salah satu rahasia bertahannya sebuah hubungan adalah kemampuan pasangan untuk saling memahami kondisi, karakter, dan kekurangan masing-masing.
“Cinta yang matang bukanlah cinta yang bebas dari perbedaan, tetapi cinta yang mampu mengelola perbedaan dengan kebijaksanaan dan saling menghargai,” jelasnya di hadapan peserta.
Suasana diskusi berlangsung hangat dan penuh antusiasme. Berbagai persoalan yang selama ini menjadi kegelisahan generasi muda mengemuka dalam sesi tanya jawab, mulai dari batasan hubungan sebelum pernikahan, cara membangun komunikasi sehat, menjaga kepercayaan dalam hubungan, hingga tantangan mempertahankan komitmen di tengah derasnya pengaruh media sosial.
Ketua LKKNU Banyuwangi Kota, Fitriyah, menjelaskan bahwa program ini dirancang sebagai ruang aman bagi masyarakat untuk berdiskusi mengenai persoalan keluarga tanpa rasa takut untuk dihakimi.
Ia menambahkan, program tersebut merupakan tindak lanjut dari komitmen organisasi dalam menghadirkan layanan sosial dan edukasi yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat.
“Kami ingin menghadirkan NU yang dekat dengan umat, mampu mendengar kegelisahan masyarakat, sekaligus memberikan solusi yang konstruktif dan berkelanjutan,” tuturnya.
Tidak hanya menjadi wadah berbagi ilmu, kegiatan tersebut juga disertai gerakan sosial melalui penggalangan donasi sukarela yang dikelola oleh Lazisnu MWCNU Banyuwangi. Dana yang terkumpul akan dialokasikan untuk mendukung berbagai program kemanusiaan, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat.
Sementara itu, Dewan Pakar LKKNU Banyuwangi, Syafaat, menilai bahwa ruang-ruang dialog seperti ini memiliki peran strategis dalam membentuk generasi yang lebih siap menghadapi kehidupan berkeluarga.
Menurutnya, banyak persoalan rumah tangga berawal dari kurangnya pemahaman tentang tujuan pernikahan itu sendiri. Padahal, keluarga bukan hanya tentang menyatukan dua individu, melainkan menyatukan visi kehidupan yang harus diarahkan pada kemaslahatan bersama.
“Ketika cinta ditempatkan sebagai bagian dari ibadah, maka hubungan yang dibangun akan memiliki fondasi yang lebih kuat. Tidak hanya mengejar kebahagiaan sesaat, tetapi juga keberkahan yang berkelanjutan,” ungkapnya.
Melalui kegiatan ini, LKKNU Banyuwangi Kota menunjukkan bahwa pembangunan keluarga berkualitas harus menjadi agenda bersama seluruh elemen masyarakat. Di tengah berbagai tantangan zaman, edukasi keluarga menjadi investasi sosial yang sangat penting untuk melahirkan generasi yang kuat, berakhlak, dan mampu menjaga keutuhan rumah tangga.
Pada akhirnya, keluarga yang harmonis tidak lahir dari kesempurnaan, melainkan dari kesediaan untuk terus belajar, saling memahami, dan bertumbuh bersama dalam bingkai nilai-nilai agama serta kemanusiaan.
(Redaksi Media Nasional Ganesha Abadi)
“Tajam Mengawal Fakta, Santun Menjaga Integritas, Profesional Membangun Peradaban.”
















